Poem19 March, 2007 07:26:43

Saat bulan menjadi baru
semua terlihat kelabu
tak ada cahaya darimu
tak ada senyum yang indah itu

wahai bulan yang sedang malu
ku nantikan pancaran darimu
pancaran indah yang membuat rindu
diriku yang selalu setia menunggu

tak ada yang bisa menyamakan
akan keindahan sebuah senyuman
dari sosokmu yang menawan
menghias keindahan malam

terjaga ku menanti mu
sampai fajar menyinarku
menjadikan mu pucat dan lesu
dalam siang yang mengganggu

oh dewi cinta datang lah pada ku
bisikan kasih di telingaku
kasih yang tak lelah menunggu
akan sebuah penantian tanpa ragu

ini kah yang dinamakan penantian
menunggu tanpa ada kepastian
menunggu sampai datang kematian
menunggu sesuatu untuk dipertahankan
menunggu dengan penuh keyakinan

wahai sang penguasa malam
tak lelahkah kau menjaga alam
menjaga dengan sebuah kalam
kalam yang tak dapat terbantahkan

wahai bintang-bintang di langit
dapatkah kau berbisik sedikit
agar hilang semua rasa sakit
yang telah lama aku jangkit
yang menusukku dalam lantunan bait

inilah sepenggal cerita
dari hidupku yang penuh duka
menanti datangnya purnama
menanti akan hadirnya cinta

Poem 06:27:29

Ketika semua mata telah buta
Ketika telinga pun menjadi tuli
Ketika jiwa tak punya rasa
Ketika hati yang tulus mati
Saat itu dilarang ngomong C*n*a
Saat itu C*n*a sudah tiada lagi

Akankah ku merasakan saat itu
Akankah ku mengalami kala itu
Masihkah ku kan hidup di zaman itu
Zaman di mana perasaan menjadi bisu
Zaman di kala nafsu mengeras kaku

Saat ini ku cuma bisa berkata
Mengatakan betapa indahnya C*n*a
Mengatakan kepada semua wanita
Karena mereka memang pantas dipuja
Diagungkan karena keindahannya

Mungkinkah C*n*a tanpa ada kata
Benarkah C*n*a tanpa ungkapan rasa
Seperti angsa yang tak punya mata
Terbang tinggi melayang ke angkasa
Menunggu saatnya jatuh terluka

Selagi tak ada larangan bilang C*n*a
Kenapa tak kau katakan saja
Semua perasaan yang ada di jiwa
Perasaan antara kita berdua
Bahwa kita memang saling CINTA