merasakanmu di kala malam
memelukmu di waktu kelam
seakan meramu seluruh alam
ke dalam puisi cinta yang awam

jugakah kau rasakan kehadiran
diri aku yang slalu kau nantikan
tuk menjadi udara kesegaran
kau hirup di spanjang kesempatan

wahai permadani terbangku
bawalah setetes cairan tubuhku
hingga nanti kan dapat bertemu
kekasih yang selalu kurindu
tuk mencumbunya di sepanjang waktu
tuk melepaskan gejolak nafsu

wahai para pujangga cinta
sadarkah, ku selalu meminta
syair keagungan rasa mulia
syair kebanggaan gairah jiwa

apakah masih ada esok hari
apakah masih ada matahari
apakah masih saja aku cari
apakah masih ingin ku sendiri

engkau adalah bidadari surga
suci bagai jernihnya air telaga
polos tanpa mengenakan busana
tak ada cacat yang dapat terasa
seperti itulah engkau, wahai cinta

ku dapat merasa di dalam mimpi
ku dapat terluka di dalam mimpi
ku dapat menggila di dalam mimpi
ku dapat mati, hanya karna tak mimpi

tak bisa lagi dapat aku bedakan
antara dunia mimpi dan kenyataan
apakah aku bermimpi tentang kepastian
atau kecintaan yang membuatku berangan
selalu membayangkan akan kecantikan
dari dirimu yang tak dapat tergantikan

saat ku hembuskan nafas perpisahan
kuingin engkau yang memberikan
udara yang penuh ketentraman
yang kau sampaikan lewat kecupan