berjalan tertatih dalam terik gurun
gurun waktu yang lambat mengalun
mengeringkan cintaku tanpa ampun
hingga tak tersisa sedikit pun

kejam dunia ini tak berbalas
hingga wajahku pucat memelas
menunggu cinta yang telah tergilas
menjadi keping-keping yang terbias

mungkin di sini ku tak mungkin mencinta
mungkin di sini ku tak dapat dicinta
haruskah ku menanti hingga akhir masa
menunggu dirimu di dalam surga

perasaan ini datang dan pergi
tak pernah diam di dalam hati
tak pernah mau lagi mengerti
bahwa engkau telah termiliki

oh pemilik senyuman yang buas
tak pernahkah kau merasa puas
membuatku menjadi seperti kapas
melayang di langit asmara yang luas
mencari celah dalam hatimu yang keras

ku tak tahu aku mencari apa
ku tak tahu aku menunggu apa
ku hanya ingin mencintanya
ku cuma ingin merabanya
walau semua terbungkus dalam dosa

benarkah aku diterima oleh surga
ataukah ku telah dinanti neraka
karena semua dosa yang aku cipta
saat mencintai dirimu yang telah berdua
saat melupakan dirinya yang menunggu di sana

aku bukan orang yang sempurna
bahkan, bukan orang yang pantas dipuja
melainkan ku hanya lelaki biasa
yang selalu berusaha membuatmu tertawa

bila kau tak menemui aku di surga
sudikah engkau mencariku di neraka
memberi ciuman kasih penuh cinta
ciuman yang ku nanti selamanya

haruskah aku selalu mendendam
pada takdir yang telah terekam
pada kenyataan yang tersuram
karena itu hanya buat jiwaku kelam