sebuah penantian yang tersia
penantian dari semua urat do’a
kini, hilang musnah tak tersisa
yang ada hanya aku di ujung sana

sendiri ku mengukir bongkah waktu
yang kini menyisakan rintihan debu
entah kemana semua detik yang berlalu
tak dapat ku gapai dalam kepalku

ini titik, bukan lagi koma
ini akhir dari semua cerita
yang tertutup dalam terpal sutra
menunggu usang untuk memakannya

aku tak pernah malu akan sifatku
aku tak pernah ragu akan liarku
karna ku telah menyentuh dirimu
meraba halus ke dalam cintamu

biarkan aku menjadi pencundang
yang tak pantas untuk kau pandang
karna ku menjadikanmu setitik bintang
yang kan mengiringiku dengan terang

maafkan aku cinta,
aku telah menghamburkan semuanya
goresan musim yang telah tercipta
hingga ku terjungkal di akhir cerita

kenapa ku tak pernah sadari
semua tak pernah ada yang abadi
semua akan selalu beranjak pergi
karna semua enggan menunggu sepi